Punya 10 Anak, Kuli Bangunan asal Grobogan Pusing Biaya Beli Kuota Internet

Rustaman Nusantara ยท Rabu, 19 Agustus 2020 - 10:20 WIB
Punya 10 Anak, Kuli Bangunan asal Grobogan Pusing Biaya Beli Kuota Internet
Rumah warga miskin di Grobogan yang memiliki 10 anak (Foto: iNews/Rustaman Nusantara)

GROBOGAN, iNews.id - Sebuah keluarga miskin di Grobogan, Jawa Tengah (Jateng) harus menghidupi sepuluh anaknya yang masih kecil dan duduk di sekolah dasar. Proses pembelajaran secara online membuat kepala rumah tangga semakin pusing karena terkendala dana dalam membeli kuota internet.

Budi Raharjo (51) dan Tri Utami (43) warga Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, kini harus berjuang ekstra keras demi bisa menghidupi 10 anaknya yang masing kecil-kecil. Lima dari anaknya sudah bersekolah membuat Budi harus kerja keras.

Namun, karena pandemi Covid-19, Budi lima bulan menganggur. Dia hanya mengandalkan bantuan orang untuk kebutuhan sehari-hari.

Sempat kesulitan mencari pekerjaan, kini Budi bekerja sebagai kuli bangunan di wilayah Semarang, seminggu lalu. Agar uang bisa mencukupi semua kebutuhan hidup keluarga dan pendidikan, Budi harus memangkas semua uang jajan mereka demi bisa membeli kuota internet.

"Saya cuma kuli proyek, penghasilan Rp100.000 per hari itu dengan kondisi Covid-19 sangat minim. Untuk kehidupan sehari-hari bisa cukup alhamdulillah," ucap Budi.

Diakui Budi, tidak tetap bersyukur masih bisa mencukupi makan keluarganya. Tetapi, dia juga ingin mengabaikan pendidikan anak-anaknya.

"Tapi untuk pendidikan anak-anak kita harus belajar pakai HP ini yang jadi kesulitan saya. Rumah saya tempati ini hampir roboh. dengan anak 10 bagimana saya harus nerfikir memcukupi mereka dengan pendidikan mereka, ditambah buat beli kuota itu tambah biasa," katanya.

Budi kini bertambah beban karena harus mengumpulkan biaya kelahiran anaknya yang ke-11. Kondisi rumah yang berukuran 7x7 meter yang mereka tempati juga sudah tidak layak dan membahayakan nyawa penghuninya.

Sebagian atap dan tembok sudah ambrol dan sebagian lagi nyaris roboh. Meski demikian, mereka tetap bertahan karena tidak punya pilihan dan dana untuk merenovasi rumah.


Editor : Nani Suherni