Sarjana Cantik Purbalingga Jadi Pemilah Sampah, Alasannya Mengejutkan

Catur Edi Purwanto ยท Sabtu, 21 April 2018 - 11:27 WIB
Sarjana Cantik Purbalingga Jadi Pemilah Sampah, Alasannya Mengejutkan
Seorang wanita pemilah sampah asal Purbalingga saat menjalani aktivitas pekerjaannya. (Foto: iNews/Catur Edi Purwanto)

PURBALINGGA, iNews.id – Fajar baru saja menyingsing. Memulai hari baru yang cerah, tampak sejumlah pekerja pemilah sampah di sudut wilayah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sudah memulai rutinitasnya. Tak ada yang berbeda. Hanya saja, di antara belasan pemilah sampah, terdapat sejumlah wanita muda yang menekuni pekerjaan kasar tersebut.

Mereka bukan para wanita biasa, beberapa di antaranya telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan begelar sarjana. Rutinitas pekerjaan itu dilalui atas dasar tujuan yang mulia. Bukan hanya sekadar mengejar materi, namun juga untuk mengatasi permasalahan persampahan dan mengajarkan akan nilai keekonomian dari sampah-sampah tersebut.

Mungkin, hanya segelintir orang saja yang memiliki kemauan dan kesadaran untuk peduli dengan sampah. Aroma bau menyengat, kotor, dan sarang penyakit, sudah melekat dengan lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Pekerjaan yang dianggap hina dan untuk kalangan masyarakat menengah ke bawah itu bukanlah profesi yang diharapkan siapapun.

Namun hal itu tidak  berlaku bagi Mahyati (22), Luthfi (19), dan dua rekan wanita lainnya. Mereka menjalani rutinitas berjibaku memilah sampah setiap harinya di lokasi TPU. Misinya sederhana, dan mereka tidak malu menjalani profesi itu meski sudah menyandang gelar sarjana ataupun sedang menempuh pendidikan.

“Kalau orang memandang sampah itu kotor, menjijikan, bau. Tapi di sisi lain, sampah itu bisa memberi rizki, jika mau mengelolanya,” kata Mahyati, wanita muda pemilah sampah yang bergelar sarjana geografi, Jumat (20/4/2018).

Dia mengaku tergerak mengurangi sampah dengan bekerja menjadi pemilah sampah tanpa paksaan siapapun. Pekerjaannya pun tak begitu sulit, hanya memilah sampah organik dan anorganik untuk diolah menggunakan mesin pemecah sampah.

“Sampah-sampah itu kami pisahkan, untuk yang bisa diolah kembali. Hasilnya bisa menjadi pupuk dan memiliki nilai jual,” ujarnya.

Meski bergelar sarjana, Mahyati tidak merasa risih apalagi gengsi dengan pekerjaan yang dipilihnya tersebut. Rasa jijik pun telah memudar, namun tetap dalam menjalankan pekerjaannya dia selalu mengenakan perlengkapan yang safety dan berstandar kebersihan. Seperi mengenakan sepatu boots dan menggunakan sarung tangan karet. “Kebersihan selalu kami utamakan,” tuturnya.

Demikian halnya dengan Luthfi, wanita cantik itu bahkan tak pernah lepas dengan lipgloss, meski harus bekerja di bawah terik matahari. Bagi dia, tampil cantik sudah menjadi kodratnya sebagai seorang wanita. Misinya tak jauh mulia dengan rekannya. Dia ingin mengurangi sampah dari perkotaan dengan cara pengolahan.

"Saya ingin mengurangi sampah melalui sistem pengolahan itu. Saya tidak malu dengan pekerjaan mengolah sampah ini,” kata wanita berkulit putih tersebut.

Bekerja sebagai pemilah sampah, tidak terlepas dari bau menyengat dan lalat yang beterbangan. Namun bagi mereka hal itu sudah biasa. Tidak ada rasa risih ataupun jijik. Pekerjaan memilah sampah itu dinilainya merupakan pekerjaan mulia.

Soal upah kerja yang mereka terima tergolong kecil. Pekerjaannya dibayar per hari sebesar Rp40.000. Namun bukan hanya sekadar mengejar nilai tersebut. Kepedulian terhadap masalah sampah dan keingingan untuk berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan menjadi penyemat mereka.

Meskipun pekerjaan sebagai pemilah sampah masih dianggap sebelah mata, namun mereka seakan ingin menunjukkan, wanita tidak hanya pandai bersolek, tapi mereka bisa melakukan aktivitas lebih dan bisa disejajarkan dengan kaum pria.


Editor : Donald Karouw