Sebar Video Hoaks Klitih, Driver Ojol di Yogyakarta Ditangkap  

Kuntadi · Selasa, 04 Februari 2020 - 22:17:00 WIB
Sebar Video Hoaks Klitih, Driver Ojol di Yogyakarta Ditangkap  
Polda DIY menangkap driver ojol karena diduga menyebarkan video hoaks klitih. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

SLEMAN, iNews.id – Driver ojek online (ojol) di Kota Yogyakarta ditangkap polisi karena diduga menyebarkan video hoaks klitih. Pelaku berinisial UK (45) warga Kuningan, Jawa Barat itu mengunggah video dan disebarkan ke grup WhatsApp.  

Direktur Ditreskrimsus Polda DIY, Kombes Pol Y Toni Surya Putra mengatakan, video yang di-share pelaku adalah korban kecelakaan di Muntilan. Namun, oleh pelaku video itu dibuat dengan narasi korban klitih. “Video kecelakaan itu di-share pelaku di grup WA,” kata Kombes Pol Y Toni Surya Putra di Mapolda Sleman, Selasa (4/2/2020).

Dalam video berdurasi 30 detik itu, kata dia, pelaku menulis narasi korban klitih di wilayah Godean. Tim Subdit Siber Ditreskrimsus kemudian menyelidiki video tersebut. Setelah ditelusuri, ternyata di wilayah Godean tidak ada kejadian klitih.

“Hingga akhirnya diketahui video itu dibuat oleh tersangka pada 3 Februari malam. Pengakuannya itu iseng dan memanfaatkan trending klitih,” katanya.

Dalam postingan di grup WA, rekan pelaku sudah mengingatkannya untuk tidak menyebar berita hoaks. Namun pelaku menjawab peristiwa itu benar terjadi dan meyakinkan kalau dia melihat sendiri korbannya.

“Kita amankan dua ponsel yang salah satunya digunakan untuk mengunggah hoaks, serta dua buah kartu sim dan flashdisk,” ujar Toni.

Dia menjelaskan, tidak semua kejadian kejahatan di jalan adalah klitih. Namun bisa jadi adalah kejahatan lain, seperti penganiayaan, pencurian atau tindak kekerasan lain. 

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto mengatakan video di ponsel sudah dihapus pelaku. Namun video tersebut disimpan pelaku ke dalam flashdisk. 

Atas perbuatannya, pelaku diancam dengan Pasal 14 ayat (2) UU Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang (UU) No 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pelaku kini terancam penjara 6 tahun dan denda maksimal Rp1 miliar. 

 

Editor : Kastolani Marzuki