Sekum Muhammadiyah Sikapi Ancaman Penutupan SMP Butuh terkait Perundungan Siswa

Kastolani ยท Sabtu, 15 Februari 2020 - 03:00 WIB
Sekum Muhammadiyah Sikapi Ancaman Penutupan SMP Butuh terkait Perundungan Siswa
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu'ti. (Foto: Dok.iNews.id)

JAKARTA, iNews.id – Rencana Pemprov Jateng menutup SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo terkait kasus perundungan terhadap siswi sekolah itu mendapat reaksi keras dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Sekretaris Umum (Sekum) PP Muhammadiyah, Dr Abdul Mu’ti mengatakan, SMP Muhammadiyah Butuh sudah berdiri tahun 1989. Pada awalnya jumlah siswanya cukup banyak. Berdirinya sekolah negeri berdampak pada berkurangnya siswa. Tetapi SMP Muhammadiyah Butuh tetap berprestasi dan banyak alumninya berhasil dalam karier profesional.

Muhammadiyah menerima tiga siswa pindahan karena dikeluarkan dan ditolak oleh sekolah negeri. Dengan segala keterbatasan dan komitmen melayani masyarakat anak-anak bermasalah tersebut diterima dengan harapan dapat dibina dengan baik.

“Jadi tidak adil kalau hanya karena satu kasus sekolah ditutup. Kalau mau dibuka, kekerasan di sekolah masih banyak terjadi termasuk sekolah negeri. Apakah pemerintah akan menutup sekolah-sekolah itu?” kata Abdul Mu’ti dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/2/2020).

Mu’ti mengakui bahwa masih ada masalah dan kekurangan itu tidak bisa dipungkiri. “Itulah yang menjadi tugas kita bersama. Sebaiknya para pejabat pemerintah memahami masalah secara komprehensif dan tidak mengambil kebijakan yang emosional,” katanya.

Diketahui, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengusulkan untuk menutup sekolah tempat terjadinya bullying. Dia pun berencana melebur sekolah berkapasitas murid kecil dengan sekolah lain di sekitarnya.

Hal ini disampaikan Ganjar sebagai tindak lanjut kasus bullying yang terjadi di sebuah SMP di Purworejo. Ganjar mengatakan, kasus bullying ternyata tak hanya terjadi di sekolah dengan kapasitas murid besar. Sebagaimana terjadi di Purworejo, bullying juga terjadi di sekolah berkapasitas kecil.

Ganjar juga terus membujuk siswi korban bullying di sebuah SMP di Purworejo pindah sekolah. Ganjar meminta siswi tersebut belajar di sekolah luar biasa (SLB).

Dari hasil kunjungan Dinas Pendidikan Pemprov Jateng, korban bullying di Purworejo masuk kategori anak berkebutuhan khusus. Ganjar menuturkan, sudah mencari tempat tinggal untuk siswi tersebut. Lokasinya pun tak jauh dari sekolah yang direkomendasikan.


Editor : Kastolani Marzuki