Sri Sultan Minta Warga Gotong Royong Hadapi Covid-19 Tanpa Tunggu Komando

Kuntadi ยท Selasa, 21 April 2020 - 13:24 WIB
Sri Sultan Minta Warga Gotong Royong Hadapi Covid-19 Tanpa Tunggu Komando
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. (Foto: Antara/Luqman Hakim)

YOGYAKARTA, iNews.id - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X kembali menyapa warganya lewat #SultanMenyapa. Kali ini Raja Kraton Yogyakarta itu meminta warga untuk disiplin dalam menghadapi musibah Covid-19.

Edisi kedua #SultanMenyapa yang disampaikan pada Selasa (21/4/2020) berisi pesan ajakan bagi masyarakat untuk kembali mengingat prinsip golong gilig, membantu satu sama lain agar bisa bangkit dari keterpurukan. Adapun pesan yang disampaikan oleh Ngarsa Dalem kurang lebih sebagai berikut:

Momentum ini adalah juga saat untuk kita introspeksi diri.

Manekung, maneges mring Gusti, ke haribaan-Nya Yang Maha Pengampun.

Saat ini juga mengingatkan saya ketika menggaungkan Maklumat Reformasi di hadapan ratusan ribu orang tahun 1998 bahwa kita akan bisa mengatasi masa krisis dengan baik.

Tuhan telah membuka pintu mata hati kita.

Hari ini, banyak diantara kita yang harus berpisah dengan orang orang yang dicinta.

Marilah kita mengingat, bahwa derita yang kita rasakan adalah pertanda kita hidup.

Pengorbanan yang kita sandang harus terbaca agar kita menjadi kuat, dan bahwa kita tidaklah sendiri. Untuk maju, kita harus bangkit.

Bangkit dari diam, dan bergerak

Bangkit, agar kita berdaya

Bangkit, karena kita percaya.

Marilah Saudara-Saudaraku, kita bangkit bersama agar hidup ini lebih bermakna.

Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik Umar Priyono menjelaskan, Sri Sultan meminta masyarakat di tingkat desa, dukuh, maupun di tingkat RT sudah memiliki kesadaran untuk saling bahu membantu tanpa harus dikomando.

Adanya wabah ini, menjadi sarana introspeksi diri bagi masyarakat untuk langsung bergerak menjaga kebersihan dan melakukan antisipasi sedini mungkin.

“Kita sering melihat adanya pembersihan lingkungan yang dilakukan oleh warga. Biasanya kerja bakti ini dilakukan hanya jelang agenda Agustusan (peringatan kemerdekaan RI), namun ini kan tidak,” ujar Umar, dikutip website resmi Pemda Jogja, Selasa (21/4/2020).

Masyarakat juga sudah saling sadar untuk saling menjaga satu sama lain. Banyak wilayah tempat tinggal yang telah memberlakukan jam malam. Masyarakat sudah saling bergotong-royong, dimana yang memiliki uang membantu yang kekurangan.

"Sebetulnya ini adalah perwujudan nilai Mangasah Mingising Budi, sebuah nilai yang Jawa yang sejak lama ada dan masih eksis hingga sekarang,” kata Umar.

Umar juga mengingatkan, warga Yoga pernah mengalami masa krisis pascagempa di tahun 2006 dan erupsi merapi 2010. Bedanya kali ini, warga Yogya diuji dengan bencana wabah.

“Bagi masyarakat Jogja, peristiwa krisis semacam ini bukan yang pertama. Kita ingat tahun 2006 saat gempa dan 2010 saat erupsi Merapi. Sebetulnya ini romantika memori lama, yang membedakan, saat ini bencananya bukan bencana alam," ucapnya.


Editor : Nani Suherni