Takut, Tangan Anak Korban Bullying di Purworejo Sempat Dingin saat Pertama Sekolah

Hartoyo ยท Kamis, 27 Februari 2020 - 18:15 WIB
Takut, Tangan Anak Korban Bullying di Purworejo Sempat Dingin saat Pertama Sekolah
Korban perundungan kembali bersekolah di SMPN 13 Purworejo (Foto: iNews/Hartoyo)

PURWOREJO, iNews.id - CA siswi korban bullying di salah satu SMP swasta di Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah (Jateng) kini kembali bersekolah. Diantar sang ibu, CA sempat takut saat memasuki sekolah barunya di SMP Negeri 13 Purwokerjo.

Ibu korban SR mengatakan sempat melihat rasa takut dari diri CA saat pertama kali memasuki sekolah. Tetapi dia meyakinkan semua siswa di sekolah barunya baik.

"Masih ada rasa takut, tadi pas masuk (sekolah) tangannya itu dingin semua. Terus saya bilang di sini anak-anaknya baik semua," ucap SR.

SR menceritakan, anaknya dari rumah sudah sangat senang mengetahui bisa bersekolah kembali. Dia pun berharap tidak ada perlakuan serupa terhadap anaknya saat berada di sekolah lama.

"Emang dia dari rumah itu sudah ingin sekolah. Jadi rasanya anakku sudah dapat sekolah baru dan temannya banyak," katanya.

SMPN 13 dipilih keluarga CA karena jaraknya yang paling dekat dengan rumahnya di Kecamatan Butuh. Siswi korban perundungan ini masuk sekolah inklusi karena menderita slow learner (keterlambatan berfikir).

Sebelumnya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, atas masukan pakar dan tim assessment serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB), siswi korban bullying dibebaskan memilih sekolah yang diinginkannya. Tempatnya pun bukan di sekolah luar biasa (SLB).

"Pakar meminta korban (disekolahkan) di sekolah negeri, sehingga mendorong korban jadi senang, bahagia," kata Ganjar dikutip situs resmi Pemprov Jateng, Selasa (25/2/2020).

Kata Ganjar, para pengajar ditantang menerapkan sistem sekolah inklusi. Tak hanya pengajar, murid di sekolah pun diminta ikut sistem tersebut.

"Ini menjadi momentum, laboratorium untuk menyiapkan inklusi semuanya, guru, pendamping, siswa, kawan, murid, menuju inklusivitas. Kami ajak anak-anak tidak lagi mem-bully," ucapnya.


Editor : Nani Suherni