Tambak Digusur untuk Proyek BKT Semarang, Warga dan Satpol PP Bentrok
SEMARANG, iNews.id – Bentrokan antara warga Kelurahan Terboyo Kulon dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mewarnai proses penggusuran lahan proyek normalisasi Sungai Banjirkanal Timur (BKT) Semarang, Jawa Tengah, Senin (23/7/2018).
Bentrokan terjadi karena warga ngotot mempertahankan lahan yang merupakan area tambak mereka. Akibat kejadian itu, sejumlah warga mengalami luka-luka terkena pentungan. Beberapa warga yang dianggap sebagai provokator kemudian diamankan petugas.
Salah seorang tokoh masyarakat Terboyo Kulon, Edi Johar mengaku sangat menyesalkan kejadian tersebut. Menurut dia, sebelum penggusuran lahan semestinya dilakukan dialog terlebih dulu dengan warga. " Saya sangat menyesalkan kejadian bentrokan ini, seharusnya tidak perlu terjadi .Selama ini kan tidak pernah ada dialog, bahkan sampai pelaksanaan penggusuran hari ini," kata Edi.
Merespons kejadian tersebut, warga menggelar pertemuan membahas langkah berikutnya bersama dengan kuasa hukum. Mereka mengancam akan menurunkan massa lebih banyak lagi jika pemerintah tetap melakukan penggusuran.
Sementara itu, puluhan petugas dan eskavator kembali membongkar puluhan bangunan liar di bantaran BKT. Pembongkaran dilakukan karena hari ini batas terakhir yang diberikan Dinas Perdagangan Kota Semarang bagi pedagang kaki lima (PKL) di wilayah Bugangan dan Mlatiharjo. Namun, sebagian pemilik bangunan ada yang hanya mengosongkan bangunannya saja tanpa membongkarnya. Bahkan, sebagian juga masih ada yang tetap nekat bertahan di bangunan tersebut.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto menegaskan, pada 11 Juli lalu telah memberikan tenggat waktu 10 hari kepada seluruh penghuni untuk menertibkan sendiri bangunannya. "Namun sampai batas waktu ditetapkan, sebagian warga sengaja mengosongkan bangunan tanpa merobohkan, sedangkan yang lainnya ada pula yang masih tetap bertahan," ujar Fajar.
Dia menyebutkan, terdapat 50 bangunan liar yang ditargetkan akan selesai dibongkar hingga akhir Juli ini. Meskipun tak mau membongkar sendiri, pihaknya tetap mengapresiasi kesadaran penghuni bangunan yang mau pindah.
Editor: Kastolani Marzuki