Namun harapan itu hanya menjadi impian di siang bolong karena harga gabah masih sangat rendah. Harga pokok penjualan (HPP) gabah sebesar Rp4.200 per kilogram, dalam praktik di lapangan sering berada di bawahnya.
Kondisi ini menjadi pukulan berat karena tidak bisa menutup biaya masa tanam. Terlebih para petani sering dihadapkan masalah kelangkaan pupuk. Nelangsa hidup sebagai petani tak hanya dialami Mbah Murodi.
Jutaan rakyat yang menggantungkan hidup dari mengolah sawah juga merasakan nasib serupa. Negeri agraris hanya menjadi jargon karena tak mampu menyejahterakan para petani.
Ketua Komisi B DPRD Jateng Sumanto menilai, kehidupan petani tak pernah berubah sejak zaman dulu. Perlindungan harga gabah masih sangat minim, karena fokus pada penyediaan subsidi pupuk.
“Padahal petani lebih memilih membeli pupuk dengan harga sedikit mahal asal harga gabah dijamin oleh pemerintah,” kata Sumanto.
Editor : Ary Wahyu Wibowo
Artikel Terkait