Warga harus berjibaku melintasi jalan penuh lumpur di jalur Desa Pelosok Suwatu Kecamaatan Gabus, Kabupaten Grobogan. (Rustaman Nusantara)
Rustaman Nusantara

GROBOGAN, iNews.id – Rekaman aktivitas warga Desa Pelosok Grobogan yang berjuang menerjang jalur berlumpur dengan kedalaman 50 meter untuk bisa menuju Sragen dan Ngawi, viral di media sosial. Mereka terpaksa berjalan kaki dan menuntun kendaraan untuk bisa melewati jalur berlumpur tersebut.

Bahkan beberapa truk terjebak di dalam lumpur dan harus ditarik warga untuk keluar dari jebakan lumpur. Dari video amatir tampak truk yang hendak mengangkut tebu untuk diangkut ke Ngawi, Jawa Timur, terjebak di dalam lumpur di jalur Desa Pelosok Suwatu Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan.

Kedalaman lumpur yang mencapai 50 sentimeter ini membuat truk selip dan tidak bisa keluar. Beberapa traktor milik warga bahkan dikerahkan untuk menarik truk dari dalam lumpur.

Namun warga tetap kesulitan untuk menarik truk tersebut. Satu jam lebih truk baru bisa ditarik dengan berbagai rekayasa dan truk kembali melanjutkan perjalanan dengan ekstra pelan dan hati-hati.

Sementara itu, warga Desa Suwatu, Kecamatan Gabus Grobogan juga harus berjalan kaki sejauh dua kilometer sambil memanggul tebu hasil panen mereka untuk sampai di desa. warga terpaksa memanggul dan tidak diangkut dengan truk karena sebagian truk tidak berani menerobos lumpur dan memilih menunggu di jalan desa.

Warga terpaksa menggunakan jalur berlumpur dengan panjang mencapai kurang lebih 15 kilometer ini karena jalur ini merupakan akses perdagangan terdekat menuju Sragen dan Ngawi. Selain itu, jalur ini juga merupakan jalur menuju hutan dan ladang untuk bekerja.

Yusmin, Kepala Dusun Suwatu mengungkapkan rasa keprihatinan warga yang selama puluhan tahun selalu berjuang mengalahkan jalan berlumpur ini untuk menjual hasil panen mereka ke pasar Ngawi. 

“Warga memilih menjual hasil panen mereka ke wilayah Ngawi karena harga jual lebih tinggi dibandingkan di pasar tradisional Grobogan,” kata Yusman, Rabu (26/10/2022).

Selain itu jalur ini merupakan jalur pintas untuk bepergian ke Jawa Timur. Jika hujan turun jalan sulit dilalui sehingga warga harus rela berjalan kaki.

“Namun jika kondisi jalan kering warga bisa menggunakan sepeda motor dan terkadang harus berjalan pelan dan turun dari motor karena banyak jalan yang rusak dan nyaris tidak bisa dilalui,” katanya.

Sarmini, warga Ngawi ini selalu menggunakan akses jalan berlumpur ini untuk menuju rumah keluarganya di Desa Suwatu. Dia memilih jalur ini karena enggan untuk memutar melewati jalur yang sudah di aspal karena waktu tempuhnya tiga kali lipat lebih jauh.

“Meski harus naik turun kendaraan menyusuri jalur desa dan hutan yang berlumpur, saya bersama suami sudah terbiasa dan bahkan mereka sering harus berjalan kaki jika melewati jalur ini,” ujarnya.

Kondisi terparah pernah mereka lalui di mana saat di tengah jalan hujan deras turun sehingga motor tidak bisa berjalan dan harus di tuntun dari perbatasan Ngawi dan Grobogan, dengan waktu berjam-jam.

Wajar jika banyak kendaraan yang rusak dan harus diperbaiki setelah menempuh perjalanan melewati jalan berlumpur ini. Meski sebagian jalur adalah mulik Perhutani dan sebagian lagi milik desa, namun warga berharap agar jalur Suwatu bisa diperbaiki oleh pemerintah, sehingga roda perekonomian warga Desa Pelosok ini bisa semakin maju.


Editor : Ahmad Antoni

BERITA TERKAIT