7 Fakta Pasar Tradisional Jaga Jarak di Jateng, Nomor 6 Paling Membanggakan

Taufik Budi ยท Sabtu, 09 Mei 2020 - 06:05 WIB
7 Fakta Pasar Tradisional Jaga Jarak di Jateng, Nomor 6 Paling Membanggakan
Pasar subuh di Kota Salatiga, Jateng, di Jalan Jenderal Sudirman. (Foto: iNews/Lurisa Lulu)

SEMARANG, iNews.id - Sejumlah pasar tradisional di Jawa Tengah (Jateng) menerapkan jaga jarak atau physical distancing untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19. Dengan memanfaatkan badan jalan, cara ini dinilai cukup ampuh untuk memutus mata rantai penularan virus sekaligus menumbuhkan perekonomian masyarakat.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun memberikan pujian atas penerapan jagar jarak yang sudah diterapkan di 13 pasar tradisional di Jateng ini. Bahkan, penerapan jaga jarak direkomendasikan dilakukan pasar-pasar tradisional di Indonesia sehingga perekonomian tetap berjalan.

Berikut fakta-fakta menarik yang dihimpun dari pasar jaga jarak ini:

1. Diawali dari Kota Salatiga

Aktivitas Pasar Pagi di Kota Salatiga memanfaatkan Jalan Sudirman. Selain itu, jarak antara pembeli juga diatur sedemikian rupa sehingga bisa menerapkan protokol kesehatan physical distancing. Pasar itu beroperasi mulai Senin 27 April 2020 dan melayani pembeli mulai pukul 01.00 WIB sampai 06.30 WIB.

Pasar subuh di Kota Salatiga, Jateng, di Jalan Jenderal Sudirman. (Foto: iNews/Lurisa Lulu)
Pasar subuh di Kota Salatiga, Jateng, di Jalan Jenderal Sudirman. (Foto: iNews/Lurisa Lulu)

2. Ganjar Sebut Tiru Myanmar

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, dirinya sebenarnya telah lama mengusulkan penerapan pasar yang menerapkan physical distancing itu kepada bupati dan wali kota di daerahnya. Dia mendapat ide dari Myanmar yang telah lebih dulu menerapkannya.

"Idenya saya lihat di Myanmar, lalu saya share ke mereka para bupati wali kota, bisa tidak dilakukan. Ternyata Salatiga yang melakukan. Hari ini saya tag di Instagram saya karena memang sangat menginspirasi," kata Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Selasa (28/4/2020).

3. Pasar Bintoro Demak Ikuti Jejak Salatiga

Pasar Bintoro Demak juga mulai menerapkan jaga jarak sejak Rabu 29 April 2020. Jalan Sultan Fatah Demak di depan pasar disulap menjadi lapak-lapak pedagang. Tanpa bangunan, melainkan hanya garis-garis kotak di sepanjang jalan.

Para pedagang menempati di dalam garis kotak bercat warna kuning. Masing-masing kotak ukurannya sekitar 2 x 2 meter persegi. Tercatat ada sekitar 110 kotak yang berada di sepanjang jalan. Pasar beroperasi mulai pukul 00.00-06.00 WIB.

Pasar subuh di Kota Salatiga, Jateng, di Jalan Jenderal Sudirman. (Foto: iNews/Lurisa Lulu)
Pasar subuh di Kota Salatiga, Jateng, di Jalan Jenderal Sudirman. (Foto: iNews/Lurisa Lulu)

4. 13 Pasar di Jateng Terapkan Jaga Jarak

Kementerian Perdagangan memberikan pujian atas penerapan pasar jaga jarak di Jateng. Apalagi, saat ini sudah ada 13 pasar tradisional di Jateng yang menerapkannya, sejak pandemi Covid-19.

"Apa yang disampaikan Pak Ganjar sangat menarik, sudah ada 13 pasar yang diatur dengan konsep physical distancing. Kami menyarankan bupati wali kota yang pasarnya terlalu padat, untuk berinovasi dalam kondisi saat ini, bisa meniru seperti Jateng dengan menggunakan jalan untuk tempat berjualan," kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Suhanto, Jumat (8/5/2020).

5. Protokol Kesehatan Ketat

Pasar tradisional yang menerapkan jaga jarak untuk mencegah penyebaran corona menerapkan protokol kesehatan ketat. Pedagang dan pembeli wajib mengenakan masker. Selain itu, di beberapa titik juga disediakan tempat cuci tangan yang bisa dimanfaatkan oleh pedagang maupun pembeli.

6. Pasar Jaga Jarak Diadopsi Nasional

Kementerian Perdagangan membuat surat edaran kepada seluruh bupati/wali kota se-Indonesia untuk tetap menghidupkan pasar tradisional dengan pengetatan protokol kesehatan ketat.

7. Pasar Tradisional Dorong Roda Perekonomian

Keberadaan pasar tradisional sangat penting karena banyak orang yang masih bergantung seperti petani, pedagang, dan masyarakat. Pasar menjadi tempat bertemunya masyarakat sehingga kalau ditutup akan berdampak pada perekonomian.

Untuk itu, pasar perlu diatur dengan physical distancing agar pedagang bisa berjualan. Petani pun bisa menyetorkan hasil taninya dan ekonomi tetap berjalan.


Editor : Maria Christina