Cerita Kapten Sanjoto Kawal Jenderal Soedirman yang Ditandu dari Wonogiri ke Ponorogo

Ahmad Antoni ยท Rabu, 19 Agustus 2020 - 11:35:00 WIB
Cerita Kapten Sanjoto Kawal Jenderal Soedirman yang Ditandu dari Wonogiri ke Ponorogo
Gubernur Ganjar Pranowo menemui Sunjoto, veteran penerima empat bintang lencana dari pemerintah di rumah tinggalnya di Semarang, Rabu (19/8/2020). (Foto: Istimewa)

SEMARANG, iNews.id - Diusianya yang sudah 90 tahun Kapten Sanjoto masih ingat betul kisah-kisah heroik saat melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Kakek yang sudah memikul senjata melawan penjajah di usia 12 tahun itu nampak lancar saat menceritakan kisahnya kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Rabu (19/8/2020) pagi Kapten Sanjoto mendapat tamu istimewa. Rumahnya didatangi orang nomor satu di Jawa Tengah. Usai sepedaan keliling Kota Semarang, Ganjar menyempatkan mampir di rumah Kapten Sanjoto.

Kepada Ganjar, Kapten Sanjoto dengan bangga memperlihatkan foto-foto masa mudanya. Termasuk saat bertugas mengawal Presiden Soekarno hingga Panglima Besar Jenderal Soedirman.

"Saya juga pernah ditugaskan untuk mengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman, saat itu ditandu untuk menyeberang jalan poros Wonogiri-Ponorogo. Itu di jalan banyak tentara Belanda, sampai aman hingga Jenderal Besar Soedirman bertemu Bung Karno," kata Kapten Sanjoto.

Namun di balik kisah heroik seorang Kapten Sanjoto, ada kisah pilu yang dirasakan. Selama bertahun-tahun, dia bersama keluarganya tinggal di sebuah rumah, di Jalan Belimbing Peterongan Kota Semarang tanpa kejelasan.

Rumah tersebut menurut Kapten Sanjoto, dulunya tempat persinggahan petinggi PKI, DN Aidit. Ketika mendapat perintah untuk melakukan penggerebekan di rumah itu, dia tidak menemukan DN Aidit. Kondisi rumah saat itu rusak parah dan ada peta di dinding yang ditujukan bagi pengikut Aidit untuk kabur.

"Setelah itu, saya kan tinggal di hotel karena saya Perwira. Komandan saya kemudian memberikan rumah itu kepada saya. Rumahnya rusak parah, kemudian saya dandani dan tempati sejak tahun 1969," katanya.

Sampai saat ini, status kepemilikan rumah yang ditempati Kapten Sanjoto bersama keluarga itu belum jelas. Dia juga sempat mengurus hak atas rumah itu sejak 2004, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan.

"Saya hanya ingin, rumah ini menjadi tempat berlindung saya menikmati masa tua bersama keluarga," ujarnya.

Rumah yang ditempati Kapten Sanjoto itu memang jauh dari kata layak. Meski sudah ditembok, namun sering bocor saat hujan. Beberapa bagian atap juga sudah ambrol dan tembok retak-retak.

Ganjar pun langsung bergerak cepat. Melihat ada lurah dan camat yang hadir di kediaman Kapten Sanjoto, dia langsung memerintahkan untuk membantu mengurusnya.

"Beliau juga menjadi pengawal Jenderal Besar Soedirman, pindah ke Tegal bersama Jenderal Ahmad Yani dan pernah mengawal Bung Karno. Kalau kita ingin mendengarkan cerita sejarah yang dilakukan pelaku, beliau ini veteran yang langka saat ini," kata Ganjar.

Namun saat ini, hal yang paling penting yaitu membantu kehidupan Kapten Sanjoto. Rumah yang ditempatinya saat ini merupakan tempat persinggahan DN Aidit di Semarang, tidak jelas statusnya.

"Saya minta tolong lurah dan camat untuk mengecek asetnya. Kalau memang punya Pemkot Semarang, maka bisa diberikan sesuai yang beliau pernah dengar. Nanti saya akan bantu mendapatkannya," ujarnya.

Pihaknya juga akan membantu memperbaiki kondisi rumah yang sudah bocor. Bersama semua pihak termasuk TNI, dia meminta semuanya ikut peduli.

"Saya rasa, setidaknya beginilah cara kita menghormati sesepuh-sesepuh kita. Dalam usia 75 tahun Indonesia merdeka, saya rasa ini waktu yang tepat," ujarnya.

Ganjar juga begitu terkesan dengan sikap Kapten Sanjoto. Meski hidup pas-pasan, namun dia tidak pernah mengeluh. Gaji yang diterima dari negara sebagai veteran, juga tidak dipermasalahkan.

"Kisah perjuangan dan integritas yang ditunjukkan beliau sungguh-sungguh berkesan bagi generasi muda saat ini," ucapnya.

Editor : Nani Suherni