Cerita Sedih Penari Keraton Terkurung Bersama Adik dan Anak Paku Buwono XIII di Keraton

Bramantyo ยท Sabtu, 13 Februari 2021 - 21:19:00 WIB
Cerita Sedih Penari Keraton Terkurung Bersama Adik dan Anak Paku Buwono XIII di Keraton
Penari Keraton yang biasa membawakan tarian Bedoyo Ketawang, Ika Prasetyaningsih, mengaku pengalaman dikurung dalam Keraton tidak akan bisa dilupakannya. (Foto: Okezone/Bramantyo)

SOLO, iNews.id - Penari Keraton Kasunanan Surakarta juga ikut terkurung bersama adik kandung dari Paku Buwono (PB) ke-XIII Gusti Moeng beserta keponakannya Gusti Timoer Rumbai, di Keraton Kasunanan Surakarta. Mereka akhirnya bisa keluar dari  Sabtu (13/2/2021), setelah sempat terkunci selama tiga hari dua malam, sejak Kamis (11/2/2021) siang.

Salah satu penari Keraton yang biasa membawakan tarian Bedoyo Ketawang, Ika Prasetyaningsih, mengaku pengalaman dikunci dari dalam yang dia alami bersama dua orang putri raja, tak mungkin bisa dilupakan begitu saja. Dia pun tak menyangka akan ikut terkurung bersama adik Raja Hangabehi atau Putri Paku Buwono (PB) XII GKR Wandansari alias Koesmoertiyah (Gusti Moeng) dan Putri Raja PB XIII GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani serta penari lainnya.

Ika ikut terkurung karena dirinya merupakan salah satu asisten Gusti Moeng untuk melatih para penari Keraton. Kebetulan saat itu Ika ingin ikut masuk ke dalam untuk melihat koleksi pakaian tari Keraton.

Selain minimnya makanan saat terkurung, ungkap Ika, suasana saat itu didalam keraton begitu mengerikan. Bila malam tiba, seluruh listrik di dalam Keraton dimatikan. Kondisi gelap gurita harus mereka jalani selama terkurung dalam Keraton.

"Kalau dibilang mencekam ya cukup mencekam. Karena kemarin itu listrik sempat mati, air tidak ada, makanan tidak ada, ya seperti itu," kata Ika menceritakan pengalamannya saat terkunci di dalam Keraton, Sabtu (12/2/2021).

Menurut Ika, agar bisa bertahan di dalam, mereka termasuk kedua putri Raja, harus berusaha mencari bahan makanan. Mereka pun masih dihadapkan dengan cara mengolah makanan yang mereka dapat.

"Kita harus mencari bahan makanan dan mengolah makanan yang relatif sulit," katanya.

Belum lagi bila hendak tidur. Mereka hanya beralaskan tikar tanpa bantal sehingga tak bisa tidur dengan nyenyak.

"Tidurnya di pendopo, pakai tikar. Gimana ya, namanya tidur seadanya ya tidak bisa nyenyak. Apalagi saat itu hujan deras, jadi kedinginan," ujarnya.

Namun yang paling menyedihkan saat terkurung di dalam saat melihat kondisi Keraton yang sudah sangat memprihatikan. Terutama melihat pakaian para penari yang sudah dalam kondisi kurang baik.

Editor : Maria Christina

Halaman : 1 2