Diadang Polisi, Konvoi Bus yang Akan Demo Gagal Menuju DPRD Jateng
"Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kami juga memiliki kewajiban membayar angsuran setiap bulan ke leasing karena hampir semua bus masih kredit," kata Danang Ragil Santoso.
Danang mengungkapkan, pekerja transportasi pariwisata selama ini hanya sekadar bertahan hidup dengan mengandalkan tabungan. Penutupan tempat wisata dan larangan beroperasi selama PPKM, secara tidak langsung membunuh usaha pariwisata.
Dia menyebut, di Kota Salatiga dan sekitarnya terdapat sekitar 20 perusahaan otobus. Selain para pengusaha, mereka yang hidupnya bergantung pada transportasi pariwisata adalah kru sopir dan kernet, tour leader, dan bagian perawatan.
"Kemarin ada wacana restrukturisasi pinjaman, tapi itu malah memberatkan karena setiap bulan per armada diharuskan membayar Rp4 hingga Rp8 juta," katanya.
Dia menyatakan, pengusaha bus mendukung program pemerintah, termasuk kewajiban protokol kesehatan (prokes) selama perjalanan dan di tempat wisata.
"Tapi PPKM jangan diperpanjang terus. Ini membuat pelaku transportasi tidak bisa bekerja," ucapnya.
Editor: Ary Wahyu Wibowo