Diduga karena Tolak Cinta, Perempuan Ini Diteror Orderan Fiktif 1 Ton Anggur

Eddie Prayitno ยท Jumat, 24 Juli 2020 - 13:54 WIB
Diduga karena Tolak Cinta, Perempuan Ini Diteror Orderan Fiktif 1 Ton Anggur
Titik Puji Rahayu didampingi Bunda Gendis menunjukan bukti laporan polisi dan teror melalui media sosial. (Foto: iNews/Eddie Prayitno)

KENDAL, iNews.id - Hampir dua tahun terakhir seorang warga Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kendal, Jawa Tengah mendapatkan kiriman barang yang tidak pernah dipesan. Dia bahkan diminta untuk membayar pesanan fiktif yang tak pernah dibelinya tersebut.

Dalam video amatir yang diunggah di media sosial, tampak sebuah mobil dengan muatan buah-buahan dari kelapa hingga anggur mengantarkan pesanan warga Desa Jungsemi. Namun saat tiba di tujuan, pengiriman barang ditolak karena alamat yang dituju merasa tidak pernah memesan atau meminta dikirim.

"Ini saya sedang di Desa Jungsemi nganterin anggur 1 ton. Sudah sampai rumahnya tadi orangnya enggak ada," ujar pria dalam video tersebut.

Kasus kiriman barang tersebut rupanya sudah terjadi hampir dua tahun sejak tahun 2018. Titik Puji Rahayu, pemilik rumah itu mengaku pernah dalam sehari belasan pesanan dikirim ke tempatnya. Teror orderan fiktif ini menurutnya sudah terjadi saat bekerja di Semarang.

Dia mengatakan, pernah mendapat kiriman telepon genggam dalam sehari, bahkan jumlahnya mencapai puluhan. Lagi-lagi, pengirim meminta Titik untuk membayarnya. Merasa tidak pernah memesan, Titik pun enggan membayar dan mengembalikan orderan tersebut.

"Pas saya di Semarang itu, sehari saya dikirimi handphone sebanyak dua atau tiga kali," kata Titik, Jumat (24/7/2020).

"Setelah saya keluar dari toko, di rumah juga rupanya diteror dikirimi barang-barang sebagai lemari, kulkas, meja, kursi atau batu bata," ujarnya lagi.

Beberapa kali, Titik sempat ribut dengan pengantar pesanan karena banyak yang dikirim dari luar kota. Tidak merasa memesan, akhirnya barang tersebut dibawa kembali pemiliknya.

Diakui Titik, teror kiriman barang itu juga terjadi saat dirinya pindah ke Batam. Hingga kini, dia tidak tahu siapa yang memesan barang-barang tersebut.

Diakuinya, pernah ada seorang temannya yang menaruh hati namun ditolak. Titik menduga, karena sakit hati, pria itu meneror dirinya dengan pesanan barang tersebut.

Merasa tak nyaman dengan kondisi tersebut, Titik pun melapor ke Polsek Kangkung. Namun kasus teror orderan fiktif ini masih terus terjadi. Untuk sementara waktu, Titik pun mengungsi ke rumah kerabatnya untuk menenangkan diri.

Salah satu kerabat, Sri Murtuti alias Bunda Gendis mengatakan, Titik sempat depresi. Diketahui, Titik juga menjadi korban teror. Foto dirinya diunggah peneror di media sosial.

"Dia (Titik) itu sempat depresi. Saya bantu untuk lapor ke polsek sampai ke polda. Terus teranglah kasian dia," kata Bunda Gendis.

Kepala Desa Jungsemi, Dasuki menjelaskan teror order fiktif ini diduga dilakukan orang yang sakit hati kepada Titik. Dasuki yang pernah membantu menyelesaikan kiriman pesanan fiktif ini juga menjadi korban teror. Foto istrinya diunggah ke media sosial dengan mencantumkan nomor telepon dirinya.

"Setelah saya konfirmasi ke korban (Titik) ternyata dulu pernah ada perselihan pas kerja di Semarang," kata Dasuki.

"Entah soal apa, nah itu dia (pelaku) ditero. Saya juga karena bantu Titik juga ikut diteror," ujarnya lagi.


Editor : Nani Suherni