Ketakutan, Perawat yang Diteror di Sragen Berusia 50 Tahun dan Hidup Sendiri

Agregasi Solopos ยท Senin, 01 Juni 2020 - 14:00 WIB
Ketakutan, Perawat yang Diteror di Sragen Berusia 50 Tahun dan Hidup Sendiri
Pesan WhatsApp berisi teror kepada tenaga kesehatan di Sragen. (Istimewa)

SRAGEN, iNews.id - Seorang perawat yang menjadi tim tenaga kesehatan penanggulangan dan pencegahan Covid-19 di Puskesmas Kedawung, Sragen, yang diteror sudah tak muda lagi. Diketahui dia berusia 50 tahun dan hidup seorang diri.

Kepala Puskesmas Kedawung, Windu Nugroho, mengatakan setelah mendapat laporan teror tersebut, dia langsung berkoordinasi dengan Camat Kedawung dan Polsek Kedawung. Perawat yang mendapat ancaman teror itu juga sudah dimintai keterangan polisi.

“Perawat itu kebetulan bertugas dalam tracking atau mencari daftar nama warga yang sempat kontak langsung dengan pasien positif Covid-19 berdasar tes swab," ujar Windu dikutip Solopos.com, Senin (1/6/2020).

Windu menyesalkan ada teror kepada tenaga kesehatan di Sragen yang menangani Covid-19. Sebagai seorang wanita yang tinggal sendiri setelah suaminya meninggal dunia, ancaman teror itu tentu membuat sang perawat takut.

Perawat itu sempat masuk kerja pada Jumat dan Sabtu, namun dia harus bolak-balik ke Mapolsek Kedawung untuk dimintai keterangan polisi. Bahkan pada Minggu pagi, tenaga kesehatan di Sragen itu juga masih dimintai keterangan oleh polisi.

“Setelah dapat laporan dari nakes itu, terus terang kami kaget. Ancaman teror itu justru melemahkan kita sebagai nakes. Selama ini kita sudah jenuh, lelah, dan khawatir dengan risiko. Tapi kok malah dapat ancaman seperti itu,” ujar Windu.

Menurut dia, teror bukan hanya menyangkut masalah perorangan. Teror tersebut membuat takut semua tenaga kesehatan yang bertugas menangani Covid-19. Dia khawatir ancaman teror itu justru membuat tenaga kesehatan enggan bekerja.

“Kita semua punya keluarga. Sudah pasti takut mendapat ancaman seperti itu. Repotnya nanti, kalau misal ada kasus lagi, kami khawatir mereka enggan ketika kami tugaskan menangani Covid-19. Dampaknya tentu luas,” katanya.

Windu berharap pengirim pesan teror itu meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Windu menegaskan dirinya tidak akan membawa kasus itu ke jalur hukum.

“Yang penting dia mau membuat surat pernyataan tidak mengulangi itu sudah cukup. Kami tidak mungkin memenjarakan dia,” katanya.

Sebelumnya, seorang perawat mendapat teror melalui pesan WhatsaApp (WA) dari orang tidak dikenal. Orang yang meneror mengaku sebagai koordinator santri di Temboro, Magetan, untuk wilayah Sragen.

Informasi yang dihimpun pesan WA itu diterima perawat wanita berusia 50 tahun itu pada Jumat (29/5/2020) pagi. Dalam pesan tersebut, tenaga kesehatan di Sragen dituding ikut berperan dalam menzalimi para santri.

Peneror mengaku sudah mengantongi identitas perawat tersebut dan orang-orang yang terlibat dalam penanganan Covid-19. Dia menyebut bahwa tenaga kesehatan tersebut telah melakukan persekusi dan menzalimi mereka.

“Kami punya cara sendiri untuk membalas. Atos-atos njeh Bu (Hati-hati ya Bu). Orang yang zalim pasti binasa. Kalau gak sekarang berarti besok atau lusa. Hati-hati dengan kehidupan Anda. Anda jual kami beli,” tulis dia dalam pesan WA itu.

Artikel ini telah tayang di Solopos.com dengan judul "Tega Banget! Ini Isi Teror Ke Tenaga Kesehatan Di Sragen Yang Tangani Covid-19"


Editor : Nani Suherni