Kisah Heroik Ngatijan, Prajurit Elite TNI AU Selamatkan Teman dari Pembantaian di Papua

Sucipto ยท Jumat, 25 Maret 2022 - 16:57:00 WIB
Kisah Heroik Ngatijan, Prajurit Elite TNI AU Selamatkan Teman dari Pembantaian di Papua
Prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT) sekarang bernama Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU. Foto/SINDOnews

JAKARTA, iNews.id - Ngatijan, prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT) sekarang bernama Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU memiliki kisah yang heroik. Meski namanya tak begitu dikenal, tapi pengorbanannya sungguh luar biasa.

Pengorbanan itu diperlihatkan Ngatijan saat terlibat dalam Operasi Mandala merebut Irian Barat yang kini bernama Papua cukup besar. Bersama prajurit Kopasgat lainnya, dia berjuang mengibarkan Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di Tanah Papua. 

Hebatnya, Ngatijan juga melindungi dan menyelamatkan nyawa teman-temannya dari pembataian saat di dalam penjara. Hal itu berkat kesaktiannya seperti dikutip dari buku “Heroisme PGT Dalam Operasi Serigala: Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama di Teminabuan” yang diterbitkan Subdisjarah Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau) diceritakan, Ngatijan merupakan salah satu prajurit Korps Baret Jingga yang diterjunkan dalam Operasi Serigala.

Operasi militer berskala besar yang digelar Angkatan Udara Mandala (AULA) di bawah kepemimpinan Panglima AULA Komodor Udara Leo Wattimena yang juga merangkap Wakil Panglima II Komando Mandala (KOLA) ini antara lain, melakukan infiltrasi atau penyusupan ke pertahanan Belanda sebagai pasukan pendahulu sebelum pasukan lainnya masuk ke Papua melalui daerah Sorong dan Teminabuan.

Dalam operasi tersebut, Kopasgat mengemban misi khusus yang cukup berat yakni, mengganggu dan melemahkan kekuatan Belanda, melakukan sabotase termasuk misi pengibaran Bendera Merah Putih di Papua. Operasi militer terpaksa diambil lantaran Belanda tidak mau menyerahkan Papua kepada Indonesia. Sikap Belanda tersebut melanggar perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang telah disepakati.

Panglima Komando Mandala (KOLA) Presiden Soeharto yang kala itu berpangkat Mayjen TNI meminta Leo Wattimena menyiapkan pasukan yang memiliki kemampuan khusus untuk menjalankan operasi infiltrasi dengan cara diterjunkan. Saat itulah, Leo Wattimena menunjuk Komandan III PGT di PAU Margahayu Letnan Udara (LU) I Lambertus Manuhua untuk memimpin pasukan.

Editor : Ahmad Antoni

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel: