Kisah Sahabat Nabi SAW Rutin Membaca Surat Al Ikhlas dalam Tiap Sholat

Kastolani · Jumat, 11 September 2020 - 18:30 WIB
Kisah Sahabat Nabi SAW Rutin Membaca Surat Al Ikhlas dalam Tiap Sholat
Surat Al Ikhlas memiliki banyak keistimewaan. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Al Ikhlas artinya Memurnikan Keesaan Allah. Surat ini termasuk surah Makkiyah atau Madaniyyah, 4 atau 5 ayat Turun sesudah Surah An-Nas.

Dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

«لِكُلِّ شَيْءٍ نِسْبَةٌ وَنِسْبَةُ اللَّهِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ وَالصَّمَدُ لَيْسَ بِأَجْوَفَ»

Artinya: Segala sesuatu mempunyai predikat dan predikat Allah ialah, "Katakanlah, Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bersifat As-Samad. As-Samad artinya tidak berongga.”

Imam Bukhari mengatakan bahwa Abur Rijal alias Muhammad ibnu Abdur Rahman pernah menceritakan kepadanya dari ibunya (yaitu Amrah binti Abdur Rahman) yang dahulunya berada di dalam asuhan Siti Aisyah ra istri Nabi Muhammad Saw. Istri Nabi Saw mengangkat seorang lelaki sebagai pemimpin suatu pasukan khusus untuk suatu tugas. Lelaki itu menjadi imam salat dari para sahabatnya dan ia selalu mengakhiri bacaan salatnya dengan surat Al-Ikhlas.

Setelah pasukan khusus itu pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Nabi Saw, maka Nabi Saw. bersabda, "Tanyakanlah kepadanya, mengapa dia melakukan hal itu," lalu mereka bertanya kepadanya, dan ia menjawab, "Karena di dalamnya disebutkan sifat Tuhan Yang Maha Pemurah, dan aku suka membacakannya dalam salatku." Setelah hal itu disampaikan kepada Nabi Saw., maka beliau Saw.bersabda:

«أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّهُ»

Artinya: Sampaikanlah kepadanya, bahwa Allah menyukainya.

Demikianlah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab tauhidnya. Imam Muslim telah meriwayatkan hadis ini dan juga Imam Nasai melalui Abdullah ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, dari Said ibnu Abu Hilal dengan sanad yang sama.

Imam Bukhari mengatakan di dalam kitab salat-nya, bahwa Ubaidillah telah meriwayatkan dari Sabit, dari Anas ra. yang telah mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki menjadi imam suatu jamaah di Masjid Quba, manakala dia telah membaca Alquran yang mengawali salatnya, lalu ia mengiringinya dengan bacaan surat Al-lkhlas, setelah itu ia membaca surat yang lainnya. Hal ini ia lakukan pada tiap rakaat.

Maka para sahabatnya (teman-temannya) berbicara kepadanya, "Sesungguhnya engkau telah membaca surat ini, tetapi kelihatannya engkau merasa tidak cukup dengannya, lalu engkau baca surat lainnya. Maka adakalanya engkau baca surat ini saja, atau engkau tinggalkan surat ini dan membaca surat lainnya tanpanya."

Lelaki itu menjawab, "Aku tidak akan meninggalkannya (surat Al-lkhlas), jika engkau mau menjadikan diriku imam kalian, maka aku akan tetap melakukannya. Dan jika kalian tidak suka, maka aku tidak mau menjadi imam kalian." Sedangkan mereka memandang lelaki ini sebagai orang yang paling diutamakan oleh mereka, dan mereka tidak suka bila diimami oleh selainnya.

Ketika Nabi Saw datang berkunjung kepada mereka, maka mereka menceritakan kepada beliau berita tersebut, lalu beliau Saw. bertanya, "Hai Fulan, apakah yang mencegahmu hingga tidak mau melakukan apa yang diminta oleh teman-temanmu, dan mengapa engkau selalu menetapi surat ini dalam tiap rakaatmu?" Lelaki itu menjawab, "Aku menyukainya." Maka Nabi Saw. bersabda:

«حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ»

Kecintaanmu kepada surat (Al-lkhlas) ini dapat memasukkanmu ke dalam surga.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa Mubarak ibnu Fudalah telah meriwayatkan dari Sabit, dari Anas, bahwa pernah ada seorang lelaki berkata:

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukai surat Qul Huwallahu Ahad (surat) Al-Ikhlas." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Kesukaanmu kepadanya dapat memasukkanmu ke dalam surga.

Berikut bacaan Surat Al Ikhlas:
1.
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
2
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
3
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
4
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًااَحَدٌَ

Artinya: "Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Wallahu A'lam.


Editor : Kastolani Marzuki