Masyarakat Adat Jalawastu Brebes Gelar Ritual Ngasa, Ini Pantangan yang Tak Boleh Dilanggar
Sejarawan Pantura Wijanarko mengatakan pengaruh Sunda Wiwitan yang masih dipertahankan adalah penggunaan bahasa sunda di kampung Jalawastu. Warga setempat masih bergantung pada alam dan mereka sangat menjaga alam sebagai sumber penghidupan.
“Berdasarkan sejarahnya Sunda Wiwitan berasal dari Jalawastu. Setelah masuknya islam warga yang menolak memilih pindah ke berbagai daerah termasuk ke badui,” kata Wijanarko.
“Pengaruh Sunda Wiwitan ini bisa dilihat dari pemakaian bahasa Sunda. Ketaatan mereka menjaga alam dan tidak berani melanggar pantangan,” ujarnya.
Menurutnya, sejumlah pantangan yang tetap dijaga adalah tidak memelihara kambing, domba, kerbau, tidak menanam bawang dan kacang-kacangan serta rumah warga tidak menggunakan semen atau batu. “Mereka percaya jika dilanggar akan mendatangkan petaka,” ujarnya.
Direktur kepercayaan terhadap Tuhan YME dan masyarakat adat, Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek Julianus Limbeng mengatakan pihaknya telah memberikan dukungan penguatan lembaga adat dan ritual adat ngasa Jalawastu.
“Tak hanya upaya untuk penguatan adat tapi juga mendorong agar mereka bisa memiliki hak atas pengelolaan hutan yang kita sebut sebagai hutan adat seluas 64,9 hektare,” katanya.
Sebelum prosesi ngasa digelar di halaman saung adat Jalawastu, warga dan tamu undangan disuguhi pencak silat perang centong yakni dua lelaki yang tengah berkelahi dan tari tunggal yang dibawakan seorang lelaki serta musik lesung yakni sejumlah perempuan seperti layaknya sedang menumbuk padi.
Editor: Ahmad Antoni