#Merapi Trending Topic Twitter, Netizen Tulis Pesan Menohok untuk Penimbun Masker

Nani Suherni ยท Selasa, 03 Maret 2020 - 13:00 WIB
#Merapi Trending Topic Twitter, Netizen Tulis Pesan Menohok untuk Penimbun Masker
Tangkapan layar erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada Selasa (3/3/2020) pukul 05.22 WIB. (Foto: Istimewa)

YOGYAKARTA, iNews.id - Gunung Merapi di perbatasan Kabupaten Sleman dan Magelang, Jawa Tengah kembali erupsi Selasa (3/3/2020) pukul 05.22 WIB. Letusan erupsi vertikal ini menyemburkan kolom abu setinggi 6.000 meter atau 6 Km.

Tanda pagar (Tagar) #Merapi pun menjadi trending topic utama di Twitter. Banyak netizen yang mengimbau warga untuk bijak dalam membeli masker. Tak sedikit dari warganet yang mengkrikit sikap panik masyakarat hingga memborong masker karena korona sudah masuk ke Indonesia.

 

"Astaghfirullaah yang pada menimbun masker tolong, ini lebih bahaya ketimbang Covid-19 buat orang sehat. Debu silica dari abu vulkanik bisa menyebabkan Silicosis dan paru-paru rusak," tulis akun @BelvaGeniosa yang berprofesi sebagai dokter.

Netizen dengan akun @difanisdf pun mengatakan, bencana merapi sama halnya dengan korona. Orang pun membutuhkan masker sebagai pelindung. Tetapi, kebutuhan masker justru disalahgunakan orang yang tidak bertanggungjawab.

"Ini dimana-mana heboh korona & sekarang hujan abu Gunung Merapi. Tolong ya buat para penimbun masker mikir dong, kalian jual dengan harga segitu. Apa kalian enggak mikir gimana orang-rang yang kurang mampu?," katanya.

Hingga kini sudah sebanyak 17.000 lebih cuitan soal Merapi. Sementara update terbaru dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 km dari puncak Gunung Merapi.

“Akibat erupsi teramati tinggi kolom sekitar 6.000 meter dari puncak," ujar Kepala BPPTKG Hanik Humaida, Selasa (3/3/2020).

Selain ketinggian kolom juga terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 2 km menuju Tenggara atau arah hulu Kali Gendol.

“Arah angin menuju Utara dan status masih tetap waspada atau level II sejak 21 Mei 2018," katanya.


Editor : Nani Suherni