Negatif Korona, Pasien di RSUP Dr Kariadi Semarang Meninggal karena Flu Babi

Kristadi ยท Kamis, 27 Februari 2020 - 14:36 WIB
Negatif Korona, Pasien di RSUP Dr Kariadi Semarang Meninggal karena Flu Babi
Konferensi pers di RSUP Dr Kariadi Semarang, Jateng, Kamis (27/2/2020). (Foto: iNews/Kristadi)

SEMARANG, iNews.id - Pasien meninggal yang sebelumnya dirawat di ruang isolasi RSUP Dokter Kariadi Semarang dinyatakan positif influenza tipe A atau virus H1N1 OMD 09 yang menyebabkan wabah flu babi. Saat ini, satu pasien yang masih dirawat di ruang isolasi kondisinya semakin membaik.

RSUP Dr Kariadi menegaskan pasien yang meninggal pada Minggu (23/2/2020) bukan karena virus korona. Hal ini diketahui setelah hasil laboratorium Puslitbangkes Kementerian Kesehatan keluar.

Anggota tim penyakit infeksi new-emerging dan re-emerging Fathur Nurcholis menegaskan, pasien diketahui mempunyai riwayat kunjungan ke negara Spanyol. Kondisi pasien melemah karena dipicu virus H1N1.

"Data yang kami dahulukan itu negatif korona. Lah terus penyebabnya apa? dari hasil pemeriksaan, penyebabnya itu H1N1," ujar Fathur di RSUP Dr Kariadi Semarang, Kamis (27/2/2020).

Dia menjelaskan, kemungkinan penularan virus ini kepada korban karena bakteri atau jamur. Gejalanya pun sama seperti orang flu pada umumnya.

"Bisa karena bakteri, jamur. Jadi penyakit-penyakit yang menyerupai orang flu," katanya.

Sebelumnya, satu dari tiga pasien yang diduga terpapar virus korona (Covid-19) di RSUP Dr Kariadi meninggal dunia.
Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr Kariadi Agoes Oerip Poerwoko menjelaskan, kematian pasien bukan karena virus korona.

"Ada satu pasien kami yang sempat diobservasi karena maraknya wabah korona beberapa hari lalu. Tapi dia meninggal bukan karena suspect. Akan tetapi dia sakit pernapasan akut," katanya, Selasa (25/2/2020).

Penanganan pasien meninggal dunia itupun diberlakukan khusus melihat pasien pernah diisolasi dan saat itu hasil uji laboratorium dari Kementerian Kesehatan belum keluar. Jenazah pun dibungkus plastik setelah dimandikan.

"Sampai pada saat pasien itu meninggal, kami perlakukan sama seperti pada saat simulasi. Dan itu sudah biasa kami lakukan pada saat penanganan kasus flu burung," ujarnya.


Editor : Nani Suherni