Telur Infertil Dijual Bebas di Pasar Wage Banyumas, Peternak Ayam Protes

Saladin Ayyubi ยท Rabu, 13 Mei 2020 - 20:00 WIB
Telur Infertil Dijual Bebas di Pasar Wage Banyumas, Peternak Ayam Protes
Telur infertil dijual bebas di komplek Pasar Wage, Banyumas. (Foto: iNews/Saladin Ayyubi)

PURWOKERTO, iNews.idTelur ayam infertil atau tetas marak dijual bebas di Pasar Wage, Kabupaten Banyumas. Penjualan telur infertil itu menuai reaksi dari kelompok peternak ayam petelur dan pedagang telur.

Selain membuat harga telur komersil merosot, beredarnya telur infertil juga merugikan konsumen karena tidak tahu jika kualitas telur itu tidak baik dan cepat busuk.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Petelur Nasional Jawa Tengah, Heru Nugroho mengatakan, beredarnya telur infertil membuat harga telur konsumsi menjadi turun.

“Harga telur infertil berpengaruh terhadap harga telur komersil karena dijual dengan harga Rp18.500 per kilogram, padahal harga telur komersil di Banyumas saat ini dijual dengan harga Rp21.000 per kg. Telur infertil juga dianggap merugikan masyarakat yang tidak tahu jika telur ini sebenarnya untuk ditetaskan dan mudah membusuk,” katanya, Rabu (13/5/2020).

Dia menuturkan, para peternak ayam petelur mendapat laporan sudah dua hari ada penjual telur infertil yang di kalangan peternak dikenal dengan nama telur HE (hatched egg)  di area Pasar Wage.

“Telur infertil sesuai aturan tidak boleh dijual, tapi di Pasar Eage ada yang menjual sehingga peternak dan pedagang komplain,” katanya.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Petelur Nasional Banyumas, Agus Catur mengatakan, protes peternak telur terhadap penjualan telur infertile berdasarkan aturan Permentan Nomor 32/ 230/ 2017.

“Dalam permentan itu diatur tentang penyediaan peredaran dan pengawasan ayam ras dan telur konsumsi. Pasal 13 disebutkan pelaku usaha integrasi, pembibit gps, pembibit ps ataupun pelaku usaha mandiri dan koperasi dilarang memperjualbelikan telur tertunas dan infertil sebagai  telur konsumsi,” katanya.

Menurut Agus, telur infertil umumnya berasal dari perusahaan-perusahaan pembibitan ayam broiler atau ayam pedaging di mana telur yang tidak menetas atau sengaja tak ditetaskan seharusnya tak dijual sebagai telur konsumsi di pasar.  

“Telur yang tidak menetas atau sengaja tidak ditetaskan itu dijual ke pasar karena saat ini harga murah dan lebih menguntungkan dijual telurnya daripada ditetaskan. Kalau telur yang tidak jadi ditetaskan itu sudah difumigasi atau sterilisasi kemudian dijual bisa berbahaya bagi kesehatan,” paparnya.  

Agus menjelaskan, telur infertil ini sebenarnya layak dikonsumsi. Akan tetapi telur infertil lebih cepat membusuk karena berasal dari ayam betina yang sudah dibuahi pejantan.

Menurtu Agus, antara telur infertil dengan dengan telur ayam negeri ukurannya sama. Ciri paling mencolok yakni warna telur infertil  lebih pucat atau putih.

“Kalau telur ayam peternak itu coklat atau  putih agak kecoklatan. Sementara ciri telur ini putih atau pucat. Kalau telur ayam peternak di suhu normal bisa 30 hari. Telur ini hanya bisa seminggu saja bisa bertahan,” katanya.

Kasus penjualan telur infertile di Pasar Wage itu kini ditangani Satgas Pangan Polresta Banyumas. Telur infertil yang masih tersisa dari total 200 kilogram yang dijual sudah dibawa petugas ke Mapolresta Banyumas.


Editor : Kastolani Marzuki