UGM Temukan Alat Pengolah Limbah Produksi Batik

Kuntadi ยท Kamis, 23 Januari 2020 - 02:30 WIB
UGM Temukan Alat Pengolah Limbah Produksi Batik
Peluncuran alat pengolahan limbah produksi batik oleh UGM (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id – Pengelolaan limbah batik menjadi kendala yang dihadapi para perajin batik di Kabupaten Kulonprogo. Selama ini, perajin mengelola limbah secara manual dengan cara tradisional.

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menciptakan alat pengolah limbah agar air limbah yang dibuang memenuhi ambang baku.

Alat pengolah limbah ini dibuat oleh dosen dari Fakultas MIPA UGM dengan Tim Limbah Batik Sehat dari peneliti Kochi University Technologi Jepang.

BACA JUGA: Viral, Video Nenek Ditendang dan Diseret di Pasar Gendeng Yogyakarta

Alat ini bisa mengolah limbah batik yang berwarna hitam pekat menjadi air bening mendekati ambang baku normal.

Peneliti di Laboratorium Kimia Analistik Fakultas MIPA UGM Roto Narto Utomo mengatakan, mesin ciptaanya ini menjadi solusi permasalahan limbah batik. Selama ini belum ada mesin yang mampu mengolah limbah batik. Padahal limbah ini cukup berbahaya dan bisa merusak ekosisitem di alam jika dibuang ke sungai.

"Alat ini mampu menghasilkan limbah menjadi air yang bersih. Minimal air yang dihasilkan bisa untuk dipakai dalam proses produksi batik," kata Roto usai acara Desa Batik Sehat di rumah produksi batik “Farras” di Gulurejo, Lendah, Kulonprogo, Rabu (22/1/2020).

Menggunakan energi listrik, mesin ini mampu menampung limbah cair dengan kapasitas 50 liter. Sementara elektroda yang terpasang mampu mempercepat endapan limbah batik. Hanya butuh waktu antara 30 hingga 50 menit untuk menghasilkan air yang bisa mendekati dengan ambang baku.

Untuk memproduksi satu alat ini dibutuhkan biaya sekitar Rp100 jutaan. Roto menegaskan, mesin ini bersifat portable alias bisa dipindah-pindah.

"Ke depan kami sempurnakan agar menghasilkan air yang jauh leih baik lagi," ujarnya.

BACA JUGA: Miris, Nenek yang Diseret di Pasar Gendeng Yogyakarta Hidup Sebatang Kara

Tim Limbah Batik Sehat dari peneliti Kochi University Technologi Jepang, Fean Dafisunjaya Sarian menjelaskan, program ini untuk mewujudkan batik sehat. Masyarakat yang bergerak dalam usaha batik bisa mengedepankan prinsip kesehatan.

"Kami ingin batik ini sehat dan mereka yang terlibat juga tidak terganggu," katanya.

Salah satu perajin batik Umbuk Haryanto, mengatakan selama ini warga mengolah limbah dengan cara manual dan sederhana. Baik dengan model penyulingan dengan diendapkan di beberapa tahapan hingga airnya bening.

"Selama ini tidak ada alatnya dan harapan kita ada alat yang kapasitasnya lebih besar," ucapnya.


Editor : Nani Suherni