Mbah Mudzakir mempunyai guru, yaitu Kiai Sholah Darat Semarang dan KH Abbas Butet Cirebon. Sebagai murid yang taat, perjuangan Mbah Mudzakir tidak lepas dari keberadaan para guru ini.
“Mbah Mudzakir memiliki banyak rumah di kawasan Kecamatan Sayung, yaitu di Desa Loireng, Desa Kalisari, dan Desa Bedono. Pada tahun 1930, atas perintah gurunya, Mbah Mudzakir bermukim di pesisir pantai utara, kawasan Dukuh Tambaksari,” kata cucu Mbah Mudzakir, Gus Ubab Ibrahim, Minggu (7/11/2021).
Peningalan Mbah Mudzakir banyak yang hilang karena bencana abrasi rob di kawasan permukiman. Peninggalan itu antara lain kitab-kitab karangan Mbah Mudzakir yang hanyut ditelan laut.
Pihak keluarga hanya memiliki ornamen kayu sebagai tutup pilar mushola buatan Mbah Mudzakir. Selain itu juga lesung kayu yang biasa untuk menumbuk padi saat zaman perjuangan.
Editor : Ary Wahyu Wibowo
Artikel Terkait