Hasil Riset, Remaja Rentan Terpapar Virus Intoleransi

Nani Suherni ยท Rabu, 11 Maret 2020 - 10:41 WIB
Hasil Riset, Remaja Rentan Terpapar Virus Intoleransi
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen (Foto: Dokumen Humas Pemprov Jateng)

PEMALANG, iNews.id - Remaja rentan terpapar virus intoleransi dan radikalisme. Hal tersebut berdasarkan hasil riset mengenai intoleransi di kalangan remaja dari The Wahid Institute pada 2015 dan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP).

Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan, pada 2015 dari 306 siswa, sebanyak 27 persen menyatakan tidak setuju mengucapkan hari raya kepada umat agama lain. Sebanyak 28 persen ragu-ragu dan sisanya setuju. Kemudian, sebanyak 15 persen setuju dan 27 persen ragu-ragu saat ditanya soal membalas tindakan perusakan rumah ibadah agama lain.

"Riset LaKIP menunjukkan pandangan intoleransi menguat di lingkungan guru Pendidikan Agama Islam dan pelajar. Ini dibuktikan antara lain dengan dukungan mereka terhadap tindakan pengrusakan dan penyegelan rumah ibadah," kata pria yang akrab disapa Gus Yasin tersebut dilansir situs resmi Humas Pemprov Jateng, Rabu (101/3/2020).

Menurutnya, banyak ulama yang memberikan contoh baik karena moderasi. Dia menilai, moderasi tidak bermakna agama yang dikembangkan. Tetapi, agama itu dipraktikkan.

"Kami harus mengembalikan agama. Artinya, memahamkan diri kepada agama secara utuh dan dipraktikkan, dijalankan," ucapnya.

Apabila menemui kendala, kata dia, bisa menilik kembali mazhab yang diajarkan. Gus Yasin mengatakan, meskipun di Indonesia umat Islam banyak menganut mazhab imam syafi'i, tetapi mereka juga diperkenalkan mazhab lain.

"Dalam Islam kami kenal bahwa fanatik terhadap sebuah pendapat itu dilarang agama, kecuali fanatik pada akidah. Dan dalam akidah, Rasulullah pun sudah diperintahkan Allah SWT untuk menyampaikan kepada kita, lakum diinikum waliyadin," ujarnya.

Apabila hal tersebut sudah berjalan, lanjutnya, kejadian intoleransi di sebuah sekolah di Sragen dan perundungan di Purworejo, tidak akan terjadi.

Ditambahkan, guru-guru Pendidikan Agama Islam perlu dibimbing dan diarahkan para ulama, agar tidak menjadi contoh bagi muridnya untuk melakukan intoleransi yang berujung pada radikalisme.


Editor : Nani Suherni