Kisah Tan Malaka dan Jenderal Soedirman Rapat di Purwokerto untuk Mendapatkan Kemerdekaan RI

iNews.id ยท Minggu, 15 Agustus 2021 - 09:42:00 WIB
Kisah Tan Malaka dan Jenderal Soedirman Rapat di Purwokerto untuk Mendapatkan Kemerdekaan RI
Gedung RRI Purwokerto menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan Kemerdekaan Republik Indonesia. (Foto: iNews.id).

PURWOKERTO, iNews.id - Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menjadi salah satu saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Pada tahun 1946, gedung RRI Purwokerto sebagai gedung pertemuan sekaligus gedung bioskop City Theater dikenal dengan nama gedung Societeit.

Tanggal 4 Januari 1946 petang, atau 100 hari setelah tentara Inggris mendarat, gedung Societeit digunakan oleh Tan Malaka untuk menggelar rapat politik membangun Persatuan Perjuangan di Purwokerto dalam upaya menyerang politik diplomasi pemerintah dan untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan 100 persen.

Pemilihan Kota Purwokerto kala itu oleh Tan Malaka untuk mendapatkan Kemerdekaan, karena Purwokerto dianggap merupakan basis kuat, maka dari itu Tan 

Malaka memilihnya sebagai tempat kongres para pemimpin berbagai organisasi. Di mana Murba saat itu masih merupakan gerakan rakyat jelata dan belum menjadi partai. Tan Malaka menggagasnya buat melawan kapitalisme dan penjajahan serta untuk menggapai kesejahteraan.

Dikutip dalam buku tentang Tan Malaka, yang ditulis Harry A. Poeze, rapat politik yang juga dihadiri Panglima Besar Soedirman termasuk tiga ratusan orang mewakili 40 organisasi politik, organisasi kemasyarakatan dan laskar. 

Antara lain pimpinan pusat Partai Sosialis, Partai Kominis Indonesia, Serindo, Masjoemi, Partai Boeroeh Indonesia, Partai Revolosioner Indonesia (Parindo), Organisasi-organisasi pemuda dan pejuang Pasindo, Barisan Pemberontakan Rakjat Indonesia, Badan Kongres Pemoeda Repoeblik Indonesia, Hizbullah.

Hadir pula Gerakan Pemoeda Islam Indonesia (GPII), Angkatan Moeda Repoeblik Indonesia, Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi (KRIS), Pemuda Republik Indonesia Soematra, Federasi Perempuan Persatoean Wanita Indonesia (Perwari), tentara dan orang-orang dari semua lapisan rakyat.

Dalam koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta terbitan 6 Januari 1946, Harry A. Poeze menggambarkan suasana peserta rapat yang terdiam menahan napas menyambut Tan naik podium. Tan masih terlihat lebih muda, meskipun umurnya saat itu lebih dari 50 tahun. 

Editor : Ahmad Antoni

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel: