Petani Muda Cilacap Sukses Kembangkan Benih Gendot

Kuntadi ยท Sabtu, 23 Mei 2020 - 16:05 WIB
Petani Muda Cilacap Sukses Kembangkan Benih Gendot
Rizal dengan Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Cilacap Puji Hartono (Foto: Dok Humas Kementan)

CILACAP, iNews.id - Petani muda asal Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) sukses menjual benih sayur gendot yang dikenal masyarakat dengan nama genjer. Rizal mencoba membudidayakan benih gendot di tahun 2018.

Upaya Rizal membudidayakan bibit ini terbilang sederhana. Dia mengambil biji yang sudah tua kemudian dikeringkan. Ternyata benih yang dia produksi berhasil tumbuh subur dan mulai banyak permintaan dari sekitarnya. Tidak lebih dari 2 tahun upayanya inipun kini telah membuahkan hasil.

Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Cilacap mencatat frekuensi pengiriman benih gendot menunjukan tren meningkat. Pada tahun 2019, Rizal baru dapat mengirimkan dua kali benihnya dengan tujuan Sumatera saja. Kini selama Januari hingga pertengahan Mei tahun 2020 sudah 40 kali. Tujuan pengiriman antarwilayahnya pun sudah mulai merambah ke Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur.

"Tumbuhnya pelaku usaha di bidang agribisnis menjadi salah satu program yang kami galakkan. Hal ini sejalan dengan Gerakan Tigakali Lipat Ekspor yang digagas Menteri Pertanian, " kata Kepala Karantina Pertanian Cilacap Puji Hartono saat menyerahkan sertifikat karantina kepada Rizal.

Sebanyak 25 gram biji gendot ini telah diperiksa dan dijamin kesehatan dan keamanannya oleh pejabat karantina dan dapat dilalulintaskan ke Kabupaten Kampar, Riau. Menurut Puji, benih gendot sebagai media pembawa hama dan penyakit tumbuhan ini telah dinyatakan bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Berkunjung ke kantor layanan karantina pertanian Cilacap, Rizal kini dapat mengakses informasi terkait peta potensi ekspor asal daerahnya. Dia pun berencana mencari market bibit gendot di luar negeri.

"Ada aplikasi potensi ekspor yang bisa diakses langsung. Saya berpikir untuk mencari market gendot di luar negeri. Dan ternyata banyak komoditas pertanian di sekitar tempat tinggal saya yang sudah punya pasar ekspornya," ucap Rizal.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil secara terpisah menjelaskan tentang aplikasi Indonesia Maps of Agricultural Commodities Export (iMACE). Aplikasi tersebut dapat digunakan oleh seluruh pemangku kepentingan agribisnis sebagai alat bantu untuk pengambilan keputusan.

Aplikasi besutan Barantan ini berisikan data lalu lintas "real time" produk pertanian yang diekspor. Bagi para pemegang kebijakan informasi dapat digunakan untuk memetakan pembangunan pertanian berbasis kawasan berorientasi ekspor.

Bagi petani, peternak dan pekebun dapat memilih jenis budidaya guna mendapatkan nilai tambah. Sementara bagi para eksportir tentunya diharapkan dapat menjadi alat bantu analisa untuk peningkatan ragam komoditas dan negara tujuan.

"Silahkan datang ke kantor layanan kami di tanah air. Kita sinergikan semua elemen untuk menyukseskan Gratieks," ucap Jamil.


Editor : Nani Suherni