Quraish Shihab: Ramadan, Ladang Kebajikan

Kastolani ยท Rabu, 29 Mei 2019 - 04:05:00 WIB
Quraish Shihab: Ramadan, Ladang Kebajikan
Pakar tafsir Profesor Quraish Shihab. (Foto: SINDOnews)

Perlombaan/persaingan dalam kebajikan berbeda dengan persaingan dalam dunia bisnis karena apa yang terhampar di alam raya ini sangat terbatas dibanding dengan apa yang terdapat di sisi Allah. Bahkan bisa jadi, dalam dunia bisnis yang diperebutkan hanya satu tanpa ganti, apalagi jika pandangan hanya tertuju kepada sekarang dan di sini.

Ini berbeda dari berinteraksi dengan Allah, yang bukan saja lapangan pengabdian kepada-Nya tidak terbatas, tetapi juga karena pandangan mestinya tidak hanya di sini dan sekarang, tetapi juga nanti dan masa mendatang di akhirat sana. Apa yang di sisi kamu akan habis/lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. an-Nahl [16]: 96).

Allah memerintahkan berlomba dan bersaing dalam kebajikan (QS. al-Baqarah [2]: 148). Setelah memperhatikan sekian banyak tuntunan agama, para ulama merumuskan bahwa la itsâra fî al-qurbah/Tidak perlu mengalah dalam hal upaya mendekatkan diri kepada Allah.

Hal ini karena lapangan pengabdian kepada-Nya amat luas tidak terbatas sehingga jika Anda mempertahankan upaya pengabdian yang Anda pilih, maka pihak lain seandainya tidak memperoleh kesempatan yang sama, masih dapat menemukan lapangan lain yang tidak kurang nilainya dengan apa yang Anda lakukan.

Memang, jika lapangan pengabdian tersebut oleh satu dan lain hal menjadi terbatas, sedang ia amat dibutuhkan oleh pihak lain, maka di sini akhlak Islam menganjurkan untuk memberi kesempatan atau mengalah kepadanya.

Ketika itu, yang mengalah akan dianugerahi tidak kurang dari apa yang mestinya dapat ia peroleh atau apa yang diperoleh oleh siapa yang diberinya kesempatan itu dan dalam saat yang sama, yang memberi dapat melakukan pengabdian lain yang tidak kurang nilainya dari apa yang direncanakannya semula. Demikian, wa Allâh A’lam.

Editor : Kastolani Marzuki