Cerita Pejuang Pertempuran Lima Hari di Semarang: Ibu Bawa Senjata Ditutupi Sayuran

Nani Suherni ยท Kamis, 15 Oktober 2020 - 10:19:00 WIB
Cerita Pejuang Pertempuran Lima Hari di Semarang: Ibu Bawa Senjata Ditutupi Sayuran
Werdiniyati Soedardjo, pejuang Pertempuran Lima Hari di Semarang bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (Foto: Dok Humas Pemprov Jateng)

SEMARANG, iNews.id - Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang, Jawa Tengah (Jateng) dilaksanakan secara sederhana di Halaman Museum Mandala Bhakti, Rabu (14/10/2020). Salah satu penjuang perempuan pun membagikan ceritanya selama pertempuran itu.

Kisah itu dibagikan Werdiniyati Soedardjo, pejuang Pertempuran Lima Hari di Semarang, 75 tahun silam kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Perempuan 88 tahun itu, hadir secara langsung pada peringatan ke-75 peristiwa berdarah itu. Melalui putrinya, Sih Wahyu Nur Hastanti, Werdiniyati bercerita pengalamannya.

“Ibu itu dulu pas berjuang masih umur 13 tahun. Waktu itu ibu membawa senjata untuk kakaknya, disembunyikan dalam bakul ditutupi sayur-sayuran,” ujar Wahyu, saat mendampingi Werdiniyati menerima penghargaan peniti emas dari Ganjar.

Dilansir website resmi Pemprov Jateng, Wahyu menceritakan, ibunya harus berjalan kaki dari Jatingaleh ke kawasan Tugu Muda, dan menghindari pemeriksaan tentara-tentara Jepang.

“Kalau ada tentara Jepang, ibu ya pura-pura ngarit (mencari rumput). Sampai di kawasan sini (Tugu Muda) ibu melihat banyak yang dibantai. Kakak ibu juga turut dibunuh Jepang,” katanya.

Sementara itu, Werdiniyati berpesan agar generasi muda menjalani era kemerdekaan sesuai dengan peran yang dilakukan. Perjuangan anak-anak saat ini yakni dengan mengenyam pendidikan secara sunggung-sunggung.

“Kalau untuk anak-anak sekarang, yang penting tanggung jawab pada bangsa. Nek sekolah ya sungguh-sungguh sekolah, bekerja ya tanggung jawab, kalau umpamanya jadi pembantu ya jangan seolah-olah jadi pejabat, (uang) dikumpulkan untuk masa depan,” ucapnya.

Perlu diketahui, selain Werdiniyati ada dua pelaku Pertempuran Lima Hari yang mendapat penghargaan. Yakni Domo Mulyadi dan Huri Prasetyo.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengingatkan, heroisme pejuang dapat menetes ke generasi yang kini berhadapan dengan Pandemi Covid-19. Pada kesempatan itu, dia sempat mendapatkan wejangan dari Werdiniyati berupa pesan agar senantiasa merawat cinta terhadap bangsa dan saling tolong menolong.

“Semoga heroisme yang sejak dulu diberikan menetes kepada kita hari ini. Dulu lawan Jepang sekarang lawan Covid-19. Sekarang yang dibutuhkan adalah persatuan dan kontribusi dari semuanya,” ucapnya.

Ganjar mengatakan, untuk melawan Covid-19 dibutuhkan kerelaan dan kesadaran untuk tetap memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Selain itu, segala aspirasi yang disampaikan haruslah dengan cara yang santun.

“Tidak sulit kok, ketika menyampaikan aspirasi dengan baik, tidak sulit kok dengan cara tidak melempar-lempar sehingga ada yang terluka,” ucapnya.

Editor : Nani Suherni