Keakraban Anak-anak Lintas Agama Belajar Toleransi di Vihara Tanah Putih Semarang
Seperti dalam program Semai sebelumnya, anak-anak peserta diajak mengunjungi kelompok religius yang sering dilabeli sebagai “minoritas”.
“Materinya mendalam, tapi cara belajarnya dibuat interaktif, seru, dan akrab. Belajar keberagamannya ganda. Di satu sisi, mereka berinteraksi dengan sesama anak dari latar belakang beragam, di sisi lain mereka belajar memahami dan menghargai tradisi religius tempat ibadah yang mereka kunjungi,” kata Ellen Nugroho, Direktur Eksekutif EIN Institute.
Keakraban antar anak peserta Semai #3 sudah terjalin sejak awal. Meski awalnya tidak saling kenal, setelah acara perkenalan dan main bersama, rasa asing pun mencair. Selanjutnya, mereka diajak berdiskusi dengan Bhikkhu Dhirasarano tentang sifat-sifat luhur yang diajarkan Sang Buddha.
Di antaranya metta (cinta kasih universal), karuna (welas asih), mudita (simpati) dan upekkha (keseimbangan batin). Anak-anak diminta untuk berbagi tentang ajaran sifat luhur yang ada di agama atau kepercayaan masing-masing dan cara mempraktikkannya.
Sementara saat sesi penutupan, Bhikkhu Dhirasarano berpesan kepada para peserta Semai #3 agar terus menumbuhkan sikap saling menghargai dan menghormati di tengah perbedaan.
“Berbeda tidak harus jadi alasan untuk bertengkar ya. Justru kalau berjumpa dengan teman yang berbeda, kalian mendapat kesempatan untuk melatih sikap luhur cinta kasih,” ujarnya.
Editor: Ahmad Antoni