MataAir Bekali Santri di Kudus Pendidikan Vokasi agar Siap Hadapi Tantangan Industri

Kastolani ยท Jumat, 20 November 2020 - 19:15:00 WIB
MataAir Bekali Santri di Kudus Pendidikan Vokasi agar Siap Hadapi Tantangan Industri
Santri di Kudus memamerkan desain fashion dalam kegiatan "Santri Talking Fashion; Opportunity and Challenges" yang diselenggarakan di SMK PGRI 1 Kudus, Kamis (19/11/2020). (Foto: ist)

KUDUS, iNews.id – Pimpinan MataAir Foundation Muhammad Abdul Idris menilai konsep dasar pendidikan vokasi harus memprioritaskan link and match dengan industri. Karena itu, diperlukan adanya inkubasi dan pendampingan sehingga bagaimana sumber daya manusia (SDM) lulusan SMK harus menjawab tantangan dunia industri hari ini.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Abdul Idris pada kegiatan "Santri Talking Fashion; Opportunity and Challenges" yang diselenggarakan di SMK PGRI 1 Kudus, Kamis (19/11/2020).

Agenda ini diselenggarakan dengan protokol kesehatan yang ketat dan dihadiri oleh Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) Kemenparekraf serta Lisa Fitria selaku Inovator Fashion SMK yang juga pendiri Indonesian Fashion Chamber.

Karena itu, menurutnya, harus ada kolaborasi yang solid antara SMK, pemerintah dengan industri dalam menyusun roadmap pengembangan dunia vokasi khususnya di bidang fashion.

“SMK ini harus benar benar link and match. Jangan sampai hanya sampai kerja sama level MoU saja. Selain itu, kolaborasi pengembangan SMK adalah kunci. Kompetensi yang mumpuni di dunia fashion tetap harus didukung oleh skill tambahan yaitu komunikasi, jadi komunikasi dan kolaborasi,” ungkap Idris.

Dia menyampaikan mimpinya di kemudian hari untuk menggelar sebuah kegiatan wisata yang basisnya adalah pameran produk fashion yang diinisiasi oleh para santri dan siswa vokasi di Kudus untuk menunjang roda pergerakan ekonomi kreatif di daerah, dan tentunya dengan melibatkan stakeholder setempat.

“Sehingga mimpi kita bukan sekadar membuat produk wisatanya, tetapi juga menginisasi event wisata yang berangkat dari produk ekonomi kreatif, sehingga karya mereka bisa dinikmati oleh publik bahkan hingga di tahap kolaborasi seperti food and fashion Kudus dan sebagainya,” ucap Idris.

Ke depan, Idris juga berharap agar tetap mengeksplor metode promosi produk selain dengan cara menggandeng kerja sama dengan dunia usaha dan industri sehingga serapan daya saing lulusan vokasi ini bisa diterima di dunia kerja.

Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) Kemenparekraf  Iyung Masruroh  membagikan tips untuk mengembangkan pendidikan vokasi di bidang fashion guna merespons tantangan dunia industri.

“Berani berbisnis dengan segala kreativitas yang kita miliki. Membuat desain yang payable. Dukungan pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk membesarkan kreatifitas peserta didik dalam membangun ketepatan brand yang dipilih serta target market yang harus menjadi perhatian,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki