Monumen Bandajoeda, Saksi Sejarah Perlawanan Sengit Rakyat Banyumas Lawan Tentara Belanda

iNews.id · Minggu, 22 Agustus 2021 - 11:06:00 WIB
Monumen Bandajoeda, Saksi Sejarah Perlawanan Sengit Rakyat Banyumas Lawan Tentara Belanda
Monumen Poedjadi Djaring Bandajoeda di Desa Gunung Lurah, Banyumas menjadi saksi peristiwa pertempuran pejuang Indonesia melawan Belanda. (foto: iNews.id)

PURWOKERTO, iNews.id - Monumen Poedjadi Djaring Bandajoeda di Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas menjadi saksi peristiwa pertempuran pejuang Indonesia melawan Belanda saat agresi militer kedua tahun 1948. Saat itu, Belanda menguasai Purwokerto dan mengingkari gencatan senjata dalam perjanjian Renville tentang batas demarkasi.

Dalam buku Banyumas Membara Era Tahun 1945-1950 dikutip purwokerto.inews.id. Sebelum terjadi pertempuran di wilayah Desa Gunung Lurah, jalur logistik perbekalan dan persenjataan Belanda adalah antara Purwokerto -Ajibarang. 

Jalur tersebut dianggap oleh Belanda sebagai jalan maut (doden weg), seperti jalan Cirebon - Kuningan -Ciamis, Purbalingga-Belik, Singasari- Malang- Batu (Jatim). Karena di jalur perjalanan itu lah yang paling banyak mengalami pengadangan -pengadangan.

Pada waktu tertentu, untuk pengangkutannya diperlukan kendaraan lapis baja. Kadang dikerahkan juga beberapa puluh truk dengan pengawalan yang ketat hingga membentuk sebuah konvoi kendaraan yang panjang.

Para gerilyawan, pasukan TNI dan kesatuan bersenjata lain selalu mengganggu jalur perbekalan ini. Mereka berhasil menggempur dan meranjau konvoi-konvoi tersebut. 

Jumat akhir bulan September 1947 pukul 04.00 pagi, satu regu pasukan pelajar IMAM dipimpin oleh Sidharta berangkat dari markasnya di Gunung Lurah untuk mengadakan penghadangan di Mindhik, suatu desa di tepi jalan raya Ajibarang - Purwokerto, dekat Cilongok. 

Sekitar pukul 09.00 WIB datanglah konvoi truk Belanda dari arah Purwokerto dengan kawalan beberapa panser di depan dan bren carrier di belakang. Panser dan beberapa truk dibiarkan lewat, tetapi truk terakhir yang diiringi oleh sebuah bren carrier yang tiba tepat di bawah stelling (pasukan gerilya yang melakukan penyerbuan), oleh Sidharta Cs langsung ditembaki dengan gencar, sehingga truk dan bren carrier berhenti. 

Editor : Ahmad Antoni

Bagikan Artikel: