Pariwisata Ditutup, Begini Keluh Kesah Pedagang Barang Antik Pasar Triwindu Solo

Antara · Sabtu, 21 Agustus 2021 - 18:01:00 WIB
Pariwisata Ditutup, Begini Keluh Kesah Pedagang Barang Antik Pasar Triwindu Solo
Seorang pedagang barang antik saat sedang memeriksa dagangannya di Pasar Triwindu, Solo, Sabtu (21/8/2021). Foto: ANTARA/Bambang Dwi Marwoto.

Lampu hias antik diproduksi asal Kabupaten Klaten dan piring peninggalan zaman Jepang bisa dijual mencapai Rp1 juta hingga Rp5 juta, tergantung keantikan dan ukurannya. Namun selama pandemi pariwisata tutup sehingga tidak ada wisatawan.

Kendati demikian, pihaknya berharap masa pandemi Covid-19 segera selesai dan perekonomian mulai menggeliat lagi semuanya bisa normal kembali. 

"Kami menunggu dari pemerintah dan mudah-mudahan pandemi sudah berlalu dan eksis lagi. Semangat lagi bertemu dengan berbagai relasi baik dari Cirebon, Surabaya, Jawa Barat, dan Bali. Semua belum bisa masuk ke Solo," ucapnya. 

Hal serupa dirasakan pedagang Pasar Triwindu lainnya, Nyonya Fausan yang sudah menutup toko selama tujuh bulan karena pandemi.

Perempuan yang berdagang barang antik sejak 1975 ini mengaku, dampak pariwisata ditutup sangat dirasakan para pedagang barang antik di Pasar Triwindu. Sebab tidak ada wisatawan yang mampir.

Menurut dia, barang antik yang dijual antara lain lampu hias peninggalan zaman penjajahan Belanda, piring zaman Jepang, uang kuno, dan sejumlah barang aksesoris lainnya. 

Sebelum pandemi, dirinya banyak menerima pesanan berupa batu mulia berlian dari pelanggannya asal Pulau Jawa dan luar Jawa hingga puluhan juta rupiah. 

Editor : Ary Wahyu Wibowo

Bagikan Artikel: