Kolom

Supervisi Kolaborasi Berbasis Kebutuhan Guru

Kastolani ยท Senin, 25 November 2019 - 02:38 WIB
Supervisi Kolaborasi Berbasis Kebutuhan Guru
Lukman Hakim

Assessment merupakan kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu. Dalam mencari sesuatu tersebut juga termasuk mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, serta alternatif strategi yang diajukan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan. (Worthen dan Sanders : 1973).

Secara sederhana assessment merupakan kegiatan mengumpulkan data yang diperlukan untuk perencanaan kegiatan. Kegiatan kepengawasan sekolah tentu lebih baik apabila program kepengawasannya sesuai dengan kebutuhan guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya.

Untuk itulah diperlukan assessment terlebih dahulu sebelum menyusun program kepengawasan dengan tujuan pengawas mendapatkan data kebutuhan tersebut. Minimal ada dua hal yang didapatkan dari kegiatan assessment yaitu pertama mengenal dengan baik objek kepengawasan dan kedua mendapatkan data sebagai bahan untuk pemetaan kebutuhan kepengawasan.

Dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsi berupa pembinaan, pemantauan, penilaian, pembimbingan dan peningkatan profesionalitas kepala sekolah dan guru, fungsi supervisi akademik dan supervisi manajerial salah satu metode yang baik adalah menggunakan pendekatan kolaboratif.

Pendekatan kolaboratif merupakan model pelaksanaan supervisi yang menekankan kemitraan (partnershif) antara pengawas dengan individu atau kelompok yang disupervisi.

Pendekatan kolaboratif dalam pelaksanaan supervisi sangat relevan digunakan, karena tidak menimbulkan suasana tegang, bahkan bisa memunculkan suasana keakraban dan keterbukaan antara individu atau kelompok yang disupervisi.

Ini sejalan dengan pendapat Nurtain (1998) yang menyebutkan ada beberapa prinsip kolaboratif yang harus dipegang oleh pengawas dalam melaksanakan tugas supervisi antara lain, pertama, pengawasan hendaknya berpusat pada guru.

Kedua, hubungan guru dengan pengawas lebih interaktif dibandingkan direktif. Ketiga, mengembangkan sikap demokratif dari pada otoratif. Keempat, hendaknya umpan balik dari proses pembelajaran guru diberikan dengan segera dan kesimpulannya harus sesuai dengan 4 kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Kelima, layanan supervisi yang diberikan bersifat bantuan dengan tujuan meningkatkan kemampuan mengajar dan sikap profesional guru. Keenam, adanya satu pusat perhatian/satu objek yang ditonjolkan pada saat berlangsungnya supervisi.


Editor : Kastolani Marzuki