Kisah Perjuangan Hidup 13 Sahabat Difabel yang Menyentuh Hati
Dari belajar gitar itulah, dunia Adi kembali terbuka. Semangat hidupnya kembali menyala. Bakatnya bermusik bersambut. Ia memiliki teman-teman baru. Bersama pemusik yang lainnya secara tim, Adi sering tampil di hadapan jemaat gereja untuk mengiringi ibadah setiap hari Minggu. Ia pun mampu memainkan keyboard, bass, dan drum secara otodidak. Bahkan ia menamatkan SMA-nya lewat program kesetaraan Kejar Paket C pada tahun 2011 di usianya yang ke-24.
Langkahnya terus belanjut. Pada tahun 2012 ia menemukan teknologi screen reader atau pembaca layer yang dapat di-install pada komputer atau laptop sehingga perangkat elektronik tersebut dapat mengeluarkan suara saat tombol-tombol keyboard komputer tersebut ditekan.
Ia merasa sangat senang dan terharu karena dapat mengoperasikan komputer dan mendengarkan setiap kata yang ia ketik serta mampu membaca sebuah dokumen melalui suara. Ia pun akhirnya dapat membaca berbagai informasi di internet yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
Adi lalu meneruskan kuliah di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Pokok Anggur Jakarta dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Kristen secara jarak jauh agar ia dapat kuliah sambil bekerja. Ia adalah satu-satunya mahasiswa tunanetra di universitas tersebut.
Pada tahun 2014 ia menggunakan ponsel Android yang dilengkapi dengan screen reader yang disebut ponsel bicara, sehingga saat layer ponsel tersebut disentuh akan dapat mengeluarkan suara, sama seperti komputer bicara yang telah ia pakai sebelumnya. Ia lulus kuliah tahun 2016 meraih gelar Sarjana Pendidikan. Adi menjadi mahasiswa teladan dan menjadi inspirasi bagi adik-adik kelasnya.
Editor: Ahmad Antoni